Setelah membaca wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Culture_shock)
Symptoms of culture shock
Culture shock manifests itself in different ways. Some symptoms include changes in diet and sleeping patterns, an increased need of hygiene, calling home more often than usual, avoidance of people in the host culture, anxiety in public situations, and general hostility toward the new environment.
Some of the symptoms of culture shock are: excessive concern over cleanliness and the feeling that what is new and strange is "dirty." This could be in relation to drinking water, food, dishes, and bedding; fear of physical contact with attendants or servants; a feeling of helplessness and a desire for dependence on long-term residents of one's own nationality; irritation over delays and other minor frustrations out of proportion to their causes; delay and outright refusal to learn the language of the host country; excessive fear of being cheated, robbed, or injured; great concern over minor pains and irruptions of the skin; and finally, that terrible longing to be back home, to be in familiar surroundings, to visit one's relatives, and, in general, to talk to people who really "make sense."
Individuals differ greatly in the degree in which culture shock affects them. Although not common, there are individuals who cannot live in foreign countries. Those who have seen people go through a serious case of culture shock and on to a satisfactory adjustment can discern steps in the process
Culture shock manifests itself in different ways. Some symptoms include changes in diet and sleeping patterns, an increased need of hygiene, calling home more often than usual, avoidance of people in the host culture, anxiety in public situations, and general hostility toward the new environment.
Some of the symptoms of culture shock are: excessive concern over cleanliness and the feeling that what is new and strange is "dirty." This could be in relation to drinking water, food, dishes, and bedding; fear of physical contact with attendants or servants; a feeling of helplessness and a desire for dependence on long-term residents of one's own nationality; irritation over delays and other minor frustrations out of proportion to their causes; delay and outright refusal to learn the language of the host country; excessive fear of being cheated, robbed, or injured; great concern over minor pains and irruptions of the skin; and finally, that terrible longing to be back home, to be in familiar surroundings, to visit one's relatives, and, in general, to talk to people who really "make sense."
Individuals differ greatly in the degree in which culture shock affects them. Although not common, there are individuals who cannot live in foreign countries. Those who have seen people go through a serious case of culture shock and on to a satisfactory adjustment can discern steps in the process
Saya yakin saya terkena culture shock
Februari 2008 berarti sudah setahun , saya tinggal di Jakarta.Sungguh waktu berjalan dengan cepat.Ya Februari 2007 lalu, setelah hampir 6 tahun hidup terpisah , saya akhirnya memutuskan boyongan alias pindah , ikut suami yang bertugas di Jakarta .
Pindah dari daerah asal (baca Surabaya ) ke Jakarta ternyata memberikan banyak kejutan dan pengalaman .Awal pindah saya betul betul stress berat dengan segala kemacetan . padahal saya punya target ,target saya gak muluk muluk kok , paling tidak satu tahun di Jakarta seluruh mall di Jakarta yang gemerlap akan saya kunjungi .
Tapi niat saya langsung surut karena perjuangan ke mall mall bisa memerlukan waktu tempur 2 jam bahkan lebih . Belum lagi pengendara yang bak harimau semua .
Pernah saya sampai kebingungan waktu setir mobil dan terjebak macet di depan tapi pengemudi di belakang saya terus menerus membunyikan klakson.
Waktu itu ingin rasanya saya turun dan menghampirinya dan bilang " Sorry sir , mobil saya gak bisa terbang " Gak lihat depan macet apa.....
Dan ternyata culture shock juga berlaku buat wong daerah ( kata lain dari ndeso ) yang pindah ke Jakarta .Beberapa kali saya harus mengelus dada dan curhat ke suami yang dengan telaten mendengarkan dan memberikan pencerahan .
Sering saya terkaget kaget karena waktu asyik belanja di pasar swalayan atau di pusat pusat keramaian tiba tiba ada orang yang nyelonong dan menabrak saya . Mungkin saya kurang cekatan bergerak seperti mereka ya . Sehingga mereka jadi tidak sabar
Tapi at least please say "Excuse me " lah .
Dan sering pula saya notice , banyaknya trolley yang diparkir sembarangan ketika si empunya asyik memilih barang di lorong supermarket , waktu kita bilang "permisi mau lewat " si pemilik trolley kadang cuek lo , ada juga sih yang memindahkan trolleynya tapi dengan muka cemberut. Walah..walah Jakarta sedemikian kejamkah engkau , sehingga membuat para penghuninya mati rasa dan hati.........
Dan satu hal yang membuat saya sampai sekarang ngeri .
Saya pernah mendengar dengan telinga saya sendiri seorang anak laki laki yang masih usia TK mengeluarkan statement tajam " Gue tusuk lho elo "
Aduh ampun deh nak .
Apakah anak kecil pun ikut terkontaminasi , karena sang bunda dan ayahnya yang sering terjebak macet dan pulang terlambat .......
Tapi seperti orang bijak bilang , ada keburukan pasti ada kebaikannya
Jakarta bagaikan surga buat orang yang doyan jajan dan hiburan.
Semua jenis makanan tersedia dan di kemas dalam berbagai cita rasa dan kemasan
Belum lagi entertaimentnya , tinggal pilih sesuai isi kantong.
Dan yang paling saya suka pilihan pendidikan untuk anak sangat bervariasi , tinggal lihat isi kantong .
Ya.. pada akhirnya untuk isi kantong pula yang menyebabkan penghuni Jakarta bersusah payah terjebak macet .....







5 comments:
Hi..hi..hi.. kebalikan dari saya mbak, saya orang jakarta yang pindah ke Surabaya setelah nikah. Bojoku wong surabay aseli :)).
tapi memang terasa sekali bedanya ya.. setelah 2 tahun di Sby, trus ke jakarta lagi untuk pulang kampung (ngunjungi ortu), aku juga stress loh..!! macet, srudul sana sini, riuh banget..
makanya ampe sekarang belum ke Jakarta lagi, mending keluarga yang di jakarta saja yang dikirim ke sby he...he..he..
acung jempol mbak berani bawa mobil seputaran tangerang yang macet itu:-)
Setelah bertahun-tahun gak bawa mobil di jakarta, aku gak yakin masih berani. hihihi...
iya mbak..aku di sby tepatnya di rungkut. Rumah ortuku di bintaro, dekat kan sama ciputat ...:))
hihi...emang gitu sih..payah ya,, sekarang orang2 makin ga' peduli ama sekitarnya..
Waduh kalau culture shock ini hampir menimpa para perantau nih, Mbak termasuk si Aa sekeluarga sok rada lupa sama bahasa sendiri jadi kayak betawi-betawian dah.
Aa Garut,
http://inohonggarut.blogspot.com
Post a Comment